Syariah Bagian 2

Sunday, January 29, 2012


ASURANSI DALAM ISLAM 

Mengapa Asuransi itu mulia? 

“Pergunakanlah lima hal sebelum datangnya lima perkara; Muda sebelum Tua, Sehat sebelum Sakit, Kaya sebelum Miskin, Lapang sebelum Sempit, dan Hidup sebelum Mati” (Hadist Riwayat Muslim)
Penggunaan Kekayaan, artinya "Perlindungan terhadap kehilangan penghasilan untuk masa depan"
 
ASURANSI PADA UMUMNYA

Konsep asuransi pada umumnya adalah bertujuan mulia sehingga dapat diterima dalam Islam, akan tetapi ada beberapa hal yang harus dihindarkan dalam asuransi seperti skema dibawah ini :

Photobucket
 Yang harus dihindarkan Asuransi di dalam Islam adalah :

GHARAR:
Situasi dimana terdapat informasi yang tidak jelas, sehingga terjadi ketidakpastian dari kedua belah pihak yang bertransaksi.

Mengapa Gharar dilarang?

Pihak-pihak yang mengikat kontrak tidak mengerti ketentuan dan konsekuensi dari kontrak tersebut.

Hal ini menempatkan mereka pada posisi tawar menawar yang tidak seimbang dan akibatnya mereka tidak bisa membuat keputusan yang jelas.

Contoh Gharar pada zaman dahulu:

Penjualan ditentukan dengan melempar batu :
Pembeli membayar jumlah tertentu (harga) kepada penjual. Dia kemudian melempar sebuah batu kepada sejumlah barang. Bila batu tersebut mengenai sebuah barang, terjadilah penjualan.

Kontrak penjualan semestinya adalah hal yang sangat serius dan tidak boleh dilakukan dengan metode lempar batu seperti itu.

Gharar dalam Asuransi
Bila seandainya perusahaan asuransi menyatakan akan membayar klaim maksimal 20 hari sejak adanya kesepakatan mengenai jumlah klaim yang dibayar.

Dalam hal ini, terjadi unsur ketidakjelasan mengenai “20 hari”. Apakah maksudnya 20 hari kerja? (tidak termasuk hari Sabtu dan Minggu dan hari libur?) ataukah 20 hari kalender?
Oleh karena itu kejelasan di dalam polis asuransi yang dibuat harus sesuai dengan Syariah Islam, yaitu adalah adanya kejelasan untuk hal-hal yang menjadi ketentuan di dalam polis asuransi.

RIBA
Maksud dari Riba adalah : Keuntungan atau Kelebihan pada pengembalian yang berbeda dengan nilai aslinya.
Di dalam Islam, Riba bisa terjadi dalam dua situasi, yaitu:
1. Riba dalam Hutang piutang (Riba al duyun)
2. Riba dalam Penjualan (Riba al buyu)

Larangan Riba dalam Al'quran :
Al'quran (2:275) ".......padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba....")
Jadi jika ada pertanyaan : Apakah boleh kita melakukan transaksi jual-beli? jawabannya adalah : BOLEH dan ini dihalalkan dalam Al'quran, yang tidak boleh adalah melakukan jual beli dengan menaikkan harga dikarenakan seseorang itu sedang membutuhkan.

Untuk jelasnya seperti ini: 
Misalkan kita adalah penjual bensin, harga dari pertamina sudah jelas semisal Rp 4.250. Kita menjual Rp 4.500. Keuntungannya adalah Rp 250, keuntungan tersebut adalah HALAL, karena sudah ditentukan dan disepakati sebelumnya (dalam hal ini disepakati oleh DPR sebagai wakil rakyat). 
Yang menjadikan Riba, jika kita menjual bensin tersebut menjadi Rp 5.000 atau lebih dikarenakan pada saat itu kekurangan stok bensin, sehingga pengguna mobil/motor sangat membutuhkan. 
Kita mengambil keuntungan yang lebih besar (Rp 500,-)  pada saat orang sedang membutuhkan bensin.  Yang ini dapat dikategorikan sebagai Riba, dan ini dilarang dalam Islam.

Riba dalam Asuransi :
-  Investasi terhadap premi yang diterima ke dalam aktifitas yang berbasi riba. (sudah jelas, tidak saya bahas lebih dalam lagi)

- Pinjaman Premi Otomatis (Automatic Premium Loan/APL), misalkan nasabah sedang terlambat membayar premi bulan berjalan, dan dilakukan APL diatas, artinya Perusahaan Asuransi memberikan hutang atas premi yang terhutang sehingga polis tetap berjalan (inforce), tapi hutang premi tersebut dikenakan bunga. Bunga atas hutang tersebut dikategorikan sebagai Riba.

- Pinjaman Polis - Biasanya ini terjadi pada polis tradisional,semisal nasabah membutuhkan dana, dia mengambil dana dari polis yang dimiliki sebelum Masa Pembayaran Premi (MPP) berakhir. Dana yang dipinjam tersebut dikenakan bunga oleh pihak asuransi. 

MAYSIR:
Definisi : Perjudian atau permainan untung-untungan, dimana tindakan tersebut bisa menyebabkan bisa untung atau rugi.

Kegiatan yang menimbulkan "kemungkinan" untung atau rugi ini dapat dikategorikan Masyir.

Dasar larangan : 
Al'quran (5:90), yang artinya "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya arak, judi, berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan, maka hendaklah kamu jauhi, agar kamu mendapat keberuntungan"
Masyir dalam kehidupan sehari-hari : sudah jelas misal : judi bola, togel, dan lain-lainnya...selain dilarang agama hal ini juga dilarang oleh hukum ...maaf bukan untuk menyindir yang melakukan kegiatan diatas ya..... :)

Masyir dalam asuransi, misal : Bila seandainya perusahaan asuransi menyelenggarakan undian, maka tidak boleh mengakibatkan terjadinya pengurangan nilai premi peserta asuransi lain yang tidak memperoleh undian.
Undian ini sudah harus dialokasikan dari pengurangan profit perusahaan asuransi itu sendiri dan sudah dianggarkan oleh perusahaan asuransi itu sendiri misal sebagai anggaran biaya promosi, bukan mengurangi manfaat atau premi atas nasabah.
Demikian Bagian 2 dari Pendahuluan Konsep Syariah ini, untuk materi Syariah Bagian 1 dapat dibaca disini dan untuk materi yang lain saya lanjutkan dilain kesempatan, dikarenakan selain saya harus mempersiapkan bahan dan materi perlu pendalaman dan pemahaman sebelum saya publish.

Jika ada pertanyaan dan komentar, mohon anda untuk tidak segan-segan mengisi didalam kolom komentar.

Anda dapat pula berlangganan artikel, tools dan tips seputar dunia asuransi dari kami secara reguler dengan mendaftarkan di bawah ini (GRATIS)  :

Masukkan alamat email anda:

3 comments :

Lengkap dan terperici penjelasannya gan

ini yang sering terjadi sobat gharar, dimana banyak asuransi yang menawarkan dengan berbagai kemudahan dan prosesnya tapi pada kenyataan tidak seperti apa yang mereka sampaikan

Saya setuju sobat @belajar komputer, oleh karena itu tuntutan sebagai seorang konsultan asuransi sekarang ini semakin besar, selain harus mencapai target penjualan, mereka pun berkewajiban memberikan pengertian kepada nasabah agar tidak terjadi salah informasi atau pengertian dari polis asuransi.
Oleh karena itu, sekarang ini para konsultan asuransi berkewajiban mengikuti pelatihan berkesinambungan dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia untuk update pengetahuan, informasi dan skill nya.
Jadi bila sobat ditawarkan program asuransi oleh konsultan asuransi, sobat bisa menanyakan terlebih dahulu mengenai sertifikasinya, lama bergabung diperusahaan tersebut dan prestasi yang sudah dibuat.
Jika ketiga hal tersebut dapat dipenuhi oleh konsultan tersebut, maka dia cukup layak untuk melayani anda.

Post a Comment

 
 
 

Sitti