Syariah Bagian 5 (Final)

Wednesday, February 29, 2012

KONTRAK PADA ASURANSI SYARIAH DAN IMPLEMENTASI / PELAKSANAANNYA

KONTRAK PADA ASURANSI SYARIAH, lihat di tabel bawah ini :

Photobucket 
 
AKAD DIANTARA PEMEGANG POLIS / PESERTA

- Antar Pemegang polis saling menanggung setiap resiko yang ada (lihat konsep syariah bagian 3)
- Ada saatnya membayar, dalam hal ini adalah kontribusi/premi dan menerima bantuan untuk membagi resiko yang ada.
- Akad tabarru’ tersebut bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan.
- Risk Sharing dibagi di antara sesama pemegang polis (lihat tabel pada konsep syariah3)

Sedangkan Akad Pemegang Polis dengan Perusahaan Asuransi, adalah Akad Tijarah (lihat konsep syariah 4), dimana :

Perusahaan Asuransi berperan sebagai :

1. Underwriter dan administrator.
2. Collector
3. Fund Manager.

- Kontribusi/premi dari pemegang polis bukan sebagai pendapatan dari Perusahaaan Asuransi.
- Perusahaan asuransi akan mendapatkan management fee dari fungsinya sebagai administrator.
- Pemanfaatan  dana tabarru’ /dana kebajikan/Pool of Hibah untuk meningkatkan manfaat bagi pemegang polis, fund manager perusahaan asuransi akan mendapatkan bagi hasil atau fee dari kegiatan tersebut. 

SIFAT AKAD DAN NAMA AKAD DALAM ASURANSI SYARIAH (Lihat tabel dibawah ini)
Photobucket 
 
Sehingga dari keseluruhan artikel kami sehubungan dengan konsep syariah pada asuransi syariah dapat disimpulkan sebagai berikut : (lihat gambar dibawah ini)

Photobucket 
Semoga dengan selesainya artikel ini mengenai konsep syariah sehubungan dengan asuransi syariah menjadikan wawasan kita menjadi lebih luas dan jelas. 

Jika anda memiliki pertanyaan atau komentar, dimohon untuk tidak segan-segan menuliskannya pada kolom komentar dibawah artikel ini.

READ MORE - Syariah Bagian 5 (Final)

Syariah Bagian 4

Friday, February 10, 2012

KONTRAK DALAM ISLAM

Dasar kontrak dalam Islam adalah Muamalat.
Arti kata Muamalat/ Muamalah adalah dari kata 'AMALA-YU'AMILI-MU'AMALATAN 'yang berarti saling bertindak, saling berbuat dan saling beramal.
Didalam fiqih, Muamalat tersebut memiliki pengertian
Aturan Allah yang mengatur manusia dengan manusia lain dalam usahanya untuk mendapatkan alat-alat keperluan jasmaninya dengan cara yang paling baik" (Idris Ahmad) atau Muamalah adalah tukar-menukar barang satu /sesuatu yang bermanfaat dengan cara-cara yang telah ditentukan  (Rasyid Ridho) "(Rahcmat Syafiie, Fiqih Muamalah). 
Ruang lingkup yang dibahas dalam fiqih muamalah ini meliputi dua hal :


1. Muamalah Adabiyah: yaitu ditinjau dari subjeknya atau pelakunya. Biasanya yang dibahas mengenai HARTA dan IJAB QOBUL


2. Muamalah Madiyah : ditinjau dari segi objeknya.
Meliputi :
Al Ba'i (jual beli), Syirkah (perkongsian), Al Mudharabah (Kerjasama), Rahn (gadai), Kafalah dan Dhaman (jaminan dan tanggungan), Utang piutang, Hiwalah (pemindahan utang), Upah, Sewa menyewa (Ijarah) Syuf'ah (gugatan), Qiradh / Qard (memberi modal), Ji'alah (sayembara), Ariyah (pinjam meminjam), Wadi'ah (titipan), Musaraqah, Muzara'ah dan Mukhabarah, Riba, Dan beberapa permasalahan kontemporer (asuransi, bank dll), Ihyaulmawat, Wakalah

Dengan dasar Muamalat tersebut, maka ada dua jenis kontrak yang akan terbentuk, yaitu :

- Wa'ad = Janji antara satu pihak kepada pihak yang lainnya, dimana pihak yang diberi janji tidak memikul kewajiban kepada pemberi janji, dan bila janji tersebut tidak terpenuhi yang diterima oleh pemberi janji adalah sanksi moral.

Contoh : misalkan suatu hari kita di tolong oleh seseorang, maka kita mengucapkan janji, bahwa bilamana suatu hari nanti kita akan membalas kebaikan orang tersebut. Jika kita membalas kebaikan orang tersebut, maka kita melakukan janji kita, akan tetapi jika tidak kita lakukan, kita akan merasa "bersalah" atau orang-orang akan menyebut kita berbohong.

- Akad = Kontrak yang dibuat oleh kedua belah pihak yang saling bersepakat, dan syarat serta ketentuannya sudah ditetapkan secara terperinci dan spesifik. Bila kewajiban dari kedua pihak tidak dipenuhi, maka sanksi yang diterima sesuai dengan kesepakatan.

Contoh : Akad Nikah, akad jual beli rumah, dan lain sebagainya.
Baik, kita lanjutkan lagi mengenai Akad tersebut, Akad (kontrak) ada 2 jenis, yaitu :

- Kontrak Tabarru' atau "Dana kebajikan", dimana kontrak ini adalah kontrak yang saling menguntungkan, bukan transaksi untuk mencari keuntungan.
- Kontrak Tijarah : Kontrak yang bertujuan untuk mencari keuntungan.


Skema kontrak tabarru' adalah sebagai berikut :

Photobucket 
sedangkan kontrak tijarah adalah sebagai berikut :
Photobucket

Syariah bagian 4 - Kontrak Dalam Islam ini saya cukupkan sampai disini dahulu, semoga artikel ini dapat memberikan wawasan dan informasi bagi kita semua untuk memahami arti syariah dalam asuransi.

Jika anda ada pertanyaan atau komentar seputar artikel ini, mohon untuk tidak segan-segan mengisi di kolom komentar dibawah ini.


READ MORE - Syariah Bagian 4

Syariah Bagian 3

ASURANSI SYARIAH

Sebelum kita membahas asuransi syariah, ada baiknya kita lihat dahulu sejarah asuransi syariah tersebut, sebagai berikut sebelum masuk di Indonesia khususnya Asia, sebagai berikut :

Asuransi syariah pertama kali didirikan pada tahun 1979 di Sudan dengan nama Sudanese Islamic Insurance, ditahun yang sama (1979), asuransi syariah didirikan di Arab dengan nama Islamic Arab Insurance Co. Tahun 1981, asuransi syariah didirikan di Geneva dengan nama Dar Al-Maal Al-Islami, tahun 1983, asuransi syariah didirikan di SA Luxembourg dengan nama Islamic Takafol Company (ITC), tahun 1983 pula, di Bahamas didirikan asuransi syariah dengan nama Islamic takafol & Re-takafol Company, tahun 1983 juga di Bahrain EC didirikan asuransi syariah dengan nama Syarikat Al-Takafol Al-Islamic, tahun 1985 didirikan dinegara malaysia dengan nama Takaful Malaysia.

Jadi Perusahaan asuransi syariah di Indonesia bukanlah hal yang baru karena perusahaan asuransi berbasis syariah memang sudah ada sebelumnya di negara-negara lain.

Ok, kalo begitu apa pengertian Asuransi Syariah tersebut ?
Asuransi Syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru' yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah (sumber : DSN -MUI).
Dengan pengertian tersebut diatas, maka :
- Asuransi Syariah adalah suatu "sistem" dimana para peserta (tertanggung) mendonasikan sebagian atau seluruh kontribusi (premi) yang mereka bayar untuk digunakan membayar klaim atas musibah yang dialami oleh sebagian peserta (tertanggung).
- Peserta Asuransi (tertangggung) melakukan risk sharing diantara mereka atau resiko ditanggung bersama-sama diantara para peserta (tertanggung)
- peranan perusahaan asuransi "terbatas" pada pengelolaan operasional perusahaan asuransi tersebut dan menginvestasikan dana tabarrru' untuk kemajuan dan kebaikkan para peserta.

Sekarang, apakah arti dari TABARRU' tersebut ?
Definisinya adalah : Sumbangan (dalam definisi Islam=Hibah), dana tabarru tersebut dibentuk untuk dan oleh para peserta asuransi (tertanggung) sendiri.

Peranan perusahaan asuransi adalah pengelolah dan operator atas dana tabarru tersebut diatas , sehingga perusahaan asuransi syariah bukanlah pemilik dana atas dana tabarru yang ada, perusahaan asuransi sebagai pengelolah dana tabarru' tidak diperbolehkan menggunakan dana tersebut jika tidak ada kuasa dari para peserta (tertanggung), sehingga jika untuk mengubah kontrak diantara para peserta (tertanggung) yang membuat adalah pihak yang menanggung resiko bersama tersebut yaitu para peserta sendiri.

Dengan adanya hal-hal yang diputuskan bersama tersebut, unsur Gharar dan Maysir akan hilang (lihat materi Syariah bagian 2)

Sehingga dari definisi dan pengertian sebelumnya, AZAS ASURANSI SYARIAH dan PRINSIP ASURANSI SYARIAH adalah :
- Adanya jaminan dan tanggung jawab bersama
- Penyertaan dana dalam sebuah skema yang disetujui bersama.
- Membantu satu sama lain dengan menggunakan rekening yang telah ditentukan (rekening Tabarru') untuk membayar kerugian atau resiko yang akan timbul.

Supaya lebih jelas perbedaan antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah, saya tampilkan dalam gambar sebagai berikut :

ASURANSI KONVENSIONAL
Photobucket
Pada asuransi konvensional, pemilik polis/tertanggung mengalihkan resiko atas dirinya kepada perusahaan asuransi, sehingga dana/premi yang dibayar oleh pemilik polis/tertanggung adalah milik perusahaan asuransi/penanggung, oleh perusahaan asuransi tersebut, resiko atas diri pemilik polis/tertanggung dialihkan kepada perusahaan re_insurance.

ASURANSI SYARIAH
Photobucket
Pada asuransi syariah, Pemilik polis/tertanggung mengumpulkan dana/kontribusi/premi dalam sebuah Kumpulan dana Hibah / tabarru' sehingga pemilik atas dana/premi/kontribusi tersebut adalah pemilik polis/tertanggung sendiri, sehingga jika terjadi resiko atas pemilik polis/peserta, maka resiko itu ditanggung secara bersama-sama oleh para pemilik polis/peserta lainnya.

Saya cukupkan artikel Syariah bagian 3 ini, jika ada pertanyaan atau komentar silahkan menuliskan dikolom komentar.

READ MORE - Syariah Bagian 3

 
 
 

Sitti